• adminbakti
  • 28 August 2023

Nur Syarif Ramadhan: Diperlukan Cara Baru dalam Memperjuangkan Hak Difabel

“Perkenalkan saya Nur Syarif Ramadhan dari Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Saat ini saya menjadi ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan. Saya harus bangga sebagai alumni program INSPIRASI, program Indonesia-Selandia Baru untuk generasi muda inspiratif, saya belajar selama enam bulan di Auckland University of Technology di New Zealand bidang pendidikan inklusi untuk penyandang disabilitas,” dengan bangga Syarif memperkenalkan diri. 

Hari ini di Panggung Inspirasi, pria yang juga menjabat sebagai anggota Eksekutif Nasional Forum Masyarakat Pemantau Untuk Indonesia Inklusif Disabilitas (FORMASI Disabilitas) ini berkisah tentang cara-cara baru memperjuangkan hak-hak disabilitas. Ia memulai presentasinya dengan bertanya bagaimana pandangan tentang orang difabel? Cacat, tidak mampu, mudah tersinggung, tidak mampu bertanggung jawab atas diri sendiri adalah stigma yang kerap melekat pada penyandang disabilitas. Hal ini berdasarkan refleksi yang dialami Syarif sejauh ini. Padahal itu adalah cara pandang keliru. 
 
Syarif lalu menggambarkan bagaimana proses stigma terhadap disabilitas itu dalam empat tahap. Pertama adalah labelisasi atau penyematan label kepada penyandang disabilitas yang cenderung negatif. Kedua adalah stereotifikasi atau pemberian cap miring. Selanjutnya adalah segregasi atau dipisahkan dari masyarakat. Terakhir adalah diskriminasi. 

“Saya sudah mengalami semua proses itu, semenjak sekolah sudah mengalami bully, harus belajar di sekolah khusus saat SD-SMP, mengalami banyak penolakan saat SMA dan universitas, hingga diskriminasi di sektor layanan publik, saya sudah sering ditolak dalam hidup saya,” kelakarnya. 

Ia menyayangkan bahwa pengalaman-pengalaman pahit itu masih juga dialami oleh teman-teman penyandang disabilitas lainnya. “Padahal kita juga mau menikmati fasilitas yang sama dengan Anda, kenapa Anda tidak memberi kesempatan?” ujarnya. 

Menurut Syarif, diskriminasi terjadi ketika penyandang disabilitas selalu dikecualikan, dipisahkan, dan disembunyikan dari kehidupan sehari-hari. Banyak yang berpandangan bahwa disabilitas berbeda dan butuh dikasihani. 

Paradigma inilah yang harus diubah di setiap aspek kehidupan. Memandang disabilitas bukan dengan pendekatan amal dan belas kasihan, melainkan melalui pendekatan Hak Asasi Manusia (HAM), bahwa disabilitas juga butuh sekolah, akses publik, dan dapat berkontribusi layaknya masyarakat pada umumnya. “Segregasi bukan jamannya lagi, sekarang sudah inklusif, kita memiliki kesempatan sama di semua sektor,” Syarif menegaskan. 

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mendorong inklusif di sekitar kita. Mulai dari  menghormati apa yang ingin dilakukan dan apa yang ingin dicapai teman-teman disabilitas, selalu mengecek ulang atas pikiran dan ucapan tentang disabilitas, turut mempromosikan isu inklusifitas di mana pun berada, dan yang paling penting adalah kolaborasi. 

Pendekatan baru dalam memandang disabilitas ini sangat terasa dampaknya. Teman-teman disabilitas kini dapat terlibat dalam proses pembangunan, salah satunya dalam proses pengarusutamaan isu disabilitas. “Saya berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong penyusunan rencana aksi daerah untuk disabilitas,” ujar Syarif. 

Selain itu, pihaknya juga sedang berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin Makassar dalam kerja-kerja penelitian. Keterlibatan teman-teman disabilitas dalam riset penting untuk kebutuhan advokasi kebijakan agar lebih berspektif inklusif disabilitas. “Tidak mungkin berbicara disabilitas tanpa melibatkan disabilitas karena yang paling tahu diri kami adalah kami sendiri,” pungkasnya.

Simak presentasi Nur Syarif Ramadhan di FFKTI IX